CIAMIS
Luas Wilayah dan Letak Geografis Kabupaten Ciamis mempunyai luas wilayah sekitar 244.479 Ha, secara geografis letaknya berada pada koordinat 1080 20’ sampai dengan 1080 40’ Bujur Timur dan 70 40’ 20” sampai dengan 70 41’ 20” Lintang Selatan, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara : Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan Sebelah Barat : Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya Sebelah Timur : Provinsi Jawa Tengah dan Kota Banjar Sebelah Selatan : Samudera Indonesia... : Readmore...
Wisata Alam
Pangandaran Objek wisata yang merupakan primadona pantai di Jawa Barat ini terletak di Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran dengan jarak ± 92 km arah selatan kota Ciamis, memiliki berbagai keistimewaan seperti: ^Dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat yang sama ^Pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan kita untuk berenang dengan aman ^Terdapat pantai dengan hamparan pasir putih ^Tersedia tim penyelamat wisata... Readmore...
Situs Budaya
Kisah tentang Ciung Wanara memang menarik untuk ditelusuri, karena selain menyangkut cerita tentang Kerajaan Galuh, juga dibumbui dengan hal luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara. Kisah Ciung Wanara merupakan cerita tentang kerajaan Galuh ( sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit dan Pajajaran ). Tersebutlah raja Galuh saat itu Prabu Adimulya Sanghyang Cipta Permana Di Kusumah dengan dua permaisuri, yaitu Dewi... Readmore...
Sejarah
“Galuh” berasal dari kata Sansakerta yang berarti sejenis batu permata. Kata “galuh” juga biasa digunakan sebagai sebutan bagi ratu yang belum menikah (“raja puteri”). Sejarawan W.J. van der Meulen berpendapat bahwa kata “galuh” berasal dari kata “sakaloh” yang berarti “asalnya dari sungai”. Ada pula pendapat yang menyatakan, bahwa kata “galuh” berasal dari kata “galeuh” dalam arti inti atau bagian tengah batang kayu yang paling keras. Pengertian mana yang tepat dari kata “galuh” untuk daerah yang sekarang bernama Ciamis? Hal itu memerlukan kajian secara khusus dan mendalam. Galuh Masa Kerajaan Galuh memang pernah menjadi sebuah kerajaan. Akan tetapi ceritera tentang Kerajaan Galuh, terutama pada bagian awal, penuh dengan mitos. Hal itu disebabkan ceritera itu berasal dari sumber sekunder berupa naskah yang ditulis jauh setelah Kerajaan Galuh lenyap. Misalnya, Wawacan Sajarah Galuh antara lain mence... Readmore...
Ciamis, Kejayaan Kangjeng Prebu
Raden Aria Koesoemadininggrat, regent (bupati) Galuh (1879) Raden Aria Koesoemadininggrat, regent (bupati) Galuh (1879) Kangjeng Prebu sebagai bupati Galuh yang keenambelas ini paling ternama. Ia mempunyai ilmu yang tinggi dan merupakan bupati pertama di wilayah itu yang bisa membaca huruf latin. Memerintah dengan adil disertai dengan kecintaannya pada rakyat. Empat puluh tujuh tahun lamanya Raden Adipati Aria Kusumadiningrat memimpin Galuh Ciamis (1839-1886). Pemerintah kolonial saat itu sedang menjalankan... Readmore...
Definisi Kerajaan Galuh
Kerajaan Galuh adalah suatu kerajaan Sunda di pulau Jawa, yang wilayahnya terletak antara Sungai Citarum di sebelah barat dan Sungai Cipamali di sebelah timur. Kerajaan ini adalah penerus dari kerajaan Kendan, bawahan Tarumanagara. Sejarah mengenai Kerajaan Galuh ada pada naskah kuno Carita Parahiyangan, suatu naskah berbahasa Sunda yang ditulis pada awal abad ke-16. Dalam naskah tersebut, ceritera mengenai Kerajaan Galuh dimulai waktu Rahiyangta ri Medangjati yang menjadi raja resi selama lima belas tahun. Selanjutnya, kekuasaan ini diwariskan kepada putranya di Galuh yaitu Sang Wretikandayun. Saat Linggawarman, raja Tarumanagara yang berkuasa dari tahun 666 meninggal dunia di tahun 669, kekuasaan Tarumanagara jatuh ke Tarusbawa, menantunya dari Sundapura, salah satu wilayah di bawah Tarumanagara. Karena Tarubawa memindahkan kekuasaan Tarumanagara ke Sundapura, pihak Galuh, dipimpin oleh Wretikandayun... Readmore...
Galuh di bawah kekuasaan Mataram
Di bawah kekuasaan Mataram, daerah-daerah di Priangan yang semula berstatus kerajaan berubah menjadi kabupaten. Galuh berada di bawah kekuasaan Mataram antara tahun 1595-1705. Galuh pertama kali jatuh ke dalam kekuasaan Mataram, ketika Mataram diperintah oleh Sutawijaya alias Panembahan Senopati (1586-1601). Oleh penguasa Mataram, Galuh dimasukkan ke dalam wilayah administratif Cirebon. Setelah Prabu Cipta Sanghiang di Galuh meninggal, ia digantikan oleh puteranya bernama Ujang Ngekel bergelar Prabu Galuh Cipta Permana (1610-1618), berkedudukan di Garatengah (daerah sekitar Cineam, sekarang masuk wilayah Kabupaten Tasikmalaya). Prabu Galuh Cipta Permana yang telah masuk Islam (semula beragama Hindu) menikah dengan puteri Maharaja Kawali bernama Tanduran di Anjung. Selain Garatengah, di wilayah Galuh terdapat pusat-pusat kekuasaan, dikepalai oleh seseorang yang ber-kedudukan sebagai bupati dalam ... Readmore...
Galuh di bawah kekuasaan Kompeni
Akhir tahun 1705 Galuh sebagai bagian dari wilayah Priangan timur diserahkan oleh penguasa Mataram kepada Kompeni melalui perjanjian tanggal 5 Oktober 1705. Wilayah Priangan barat jatuh ke dalam kekuasaan Kompeni lebih dahulu, yaitu tahun 1677—Sejak tahun 1677 di wilayah Priangan memberlakukan penanaman wajib, terutama kopi dan nila (tarum) dalam sistem yang disebut Preangerstelsel). Mataram menyerahkan Priangan kepada Kompeni sebagai upah membantu mengatasi kemelut perebutan tahta Mataram—kompeni membantu Pangeran Puger dalam usaha merebut tahta Mataram dari keponakannya, yaitu Amangkurat III alias Sunan Mas). Namun demikian, Galuh dan daerah Priangan timur lainnya tetap berada dalam wilayah administratif Cirebon. Sebelum terjadinya perjanjian 5 Oktober 1705, Kompeni sudah mengangkat Sutadinata menjadi Bupati Galuh (1693-1706) menggantikan Angganaya yang meninggal. Ia kemudian ... Readmore...
Galuh Masa Pemerintahan Hindia Belanda
Akhir Desember 1799 kekuasaan Kompeni berakhir akibat VOC bangkrut. Kekuasaan di Nusantara diambilalih oleh Pemerintah Hindia Belanda yang dimulai oleh pemerintahan Gubernur Jenderal H.W. Daendels (1808-1811). Di bawah pemerintahan Hindia Belanda, Galuh tetap berada dalam wilayah administratif Cirebon. Pada akhir masa pemerintahan Daendels, Bupati Imbanagara Surapraja meninggal (1811). Bupati Imbanagara selanjutnya dijabat oleh Jayengpati Kertanegara, merangkap sebagai Bupati Cibatu (Ciamis). Setelah pensiun, ia digantikan oleh Tumenggung Natanagara. Penggantinya adalah Pangeran Sutajaya asal Cirebon. Oleh karena selalu berselisih paham dengan patihnya, Pangeran Sutajaya kembali ke Cirebon. Jabatan Bupati Imbanagara kembali dipegang oleh putera Galuh, yaitu Wiradikusuma, dan nama kabupaten ditetapkan menjadi Kabupaten Galuh. Tahun 1815 Bupati Wiradikusuma memindahkan ibukota kabupaten dari Imbanagara... Readmore...
Kecamatan dan Desa di Kab. Ciamis
CIAMIS 1 Kel. Ciamis 2 Kel. Kertasari 3 Kel. Cigembor 4 Kel. Benteng 5 Kel. Linggasari 6 Kel. Sindangrasa 7 Kel. Kel Maleber 8 Ds. Imbanagara 9 Ds. Imbanagararaya 10 Ds. Cisadap 11 Ds. Pawindan 12 Ds. Panyingkiran BAREGBEG 1 Ds. Baregbeg 2 Ds. Saguling 3 Ds. Mekarjaya 4 Ds. Sukamaju 5 Ds. Petir 6 Ds. Pusakanagara 7 Ds. Karangampel 8 Ds. Jelat 9 Ds. Sukamulya SADANANYA 1 Ds. Mangkubumi 2 Ds. Sadananya 3 Ds. Bendasari 4 Ds. Werasari 5 Ds. Tanjungsari 6 Ds. Gunungsari 7 Ds. Mekarjadi 8 Ds. Sukajadi SINDANGKASIH 1 Ds. Sukamanah 2 Ds. Sukaraja 3 Ds. Budiharja 4 Ds. Budiasih 5 Ds. Gunungcupu 6 Ds. Sukaresik 7 Ds. Sukasenang 8 Ds. Sindangkasih CIKONENG 1 Ds. Margaluyu 2 Ds. Cikoneng 3 Ds. Kujang 4 Ds. Sindangsari 5 Ds. Wanasigra 6 Ds. Panaragan 7 Ds. Gegempalan 8 Ds. Cimari 9 Ds. Nasol 10 Ds. Darmacaang CIJEUNGJING 1 Ds. Bojongmengger 2 Ds. Karangkamulyan 3 Ds. Kertabumi 4 Ds... Readmore...
Kerajaan Galuh Pada Masa Mandiminyak
Mandiminyak atau disebut juga Amara, memerintah di Galuh dari tahun 702 – 709 masehi. Ia memerintah dalam usia 78 tahun. Mandiminyak dijodohkan dengan putri Maharani Sima seorang penguasa dari Kalingga. Dari perkawinannya dengan Dewi Parwati, Mandiminyak dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama putri Sannaha. Dengan demikian Mandiminyak telah mempunyai dua orang anak. Anak pertama bernama Bratsenawa sebagai hasil hubungan gelap dengan Pwah Rababu yang telah diperistri oleh kakaknya yaitu Sempakjaya.. Kedua kakak beradik yang berbeda ibu tersebut, kemudian dijodohkan karena pada waktu itu adat mereka membolehkannya. Perkawinan itu terkenal dengan sebutan Perkawinan Manu, yaitu menikah dengan saudara sendiri. Mandiminyak bersama istrinya menjadi penguasa Kalingga Utara sejak tahun 674-... Readmore...
Kerajaan Galuh Pada Masa Bratasenawa
Ranghiangtang Bratasenawa atau Sang Sena memerintah di Kerajaan Galuh dari tahun 709-716 Masehi. Dari perkawinannya dengan Dewi Sannaha ia dikaruniai seorang anak yang diberi nama Sanjaya. Sang Sena terlahir dari hubungan terlarang antara Mandiminyak dan Pwah Rababu, oleh sebab itui kedudukannya di Galuh kurang disukai oleh kalangan pembesar Galuh. Sang Sena pun menyadari kalau kedudukannya kurang disukai karena latar belakang dirinya dari keadaan yang hitam, tetapi ia tetap duduk dalam kekuasaannya. Pada tahun 716 Masehi terjadilah perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Purbasora. Dalam perebutan kekuasaan itu, Purbasora dibantu oleh kerajaan-kerajaan yang berpihak kepadanya seperti kerajaan Indraprahasta yang dipimpin oleh Wirata. Dalam perebutan kekuasaan itu pasukan Galuh terpecah menjadi dua bagian, pertama sebagai pendukung Bratasena dan kedua sebagai pendukung Purbasora. Akan tetapi... Readmore...
Kerajaan Galuh Pada Masa Purbasora
Rahyang Purbasora menjadi penguasa di Galuh dari tahun 716-723 Masehi, ia naik tahta dalam usia 74 tahun. Dari perkawinannnya dengan Citra Kirana Putri Padma Hadiwangsa Raja Indraprahasta ke-13, ia dikaruniai anak bernama Wijaya Kusuma yang menjadi Patih di Saung Galah. Rahiang tidak lama memerintah di Galuh, setelah 7 tahun memegang pemerintahan maka terjadilah perebutan kekuasan, ini dilakukan oleh Sanjaya. Sa njaya adalah anak dari Bratasenawa atau Sang Sena. Penyerbuan dilakukan pada malam hari dengan markasnya di Gunung Sawal. Pada penyerbuan itu ia berhasil membunuh Purbasora serta membunuh seluruh penghuni Keraton Galuh... Readmore...
Kerajaan Galuh Pada Masa Sanjaya
Sanjaya atau Rakaian Jamri atau disebut juga Harisdharama Bhimaparakrama Prabu Maheswara Sarwajisatru Yudhapurna Jaya anak dari perkawinan antara Bratasenawa dan Dewi Sannaha. Ia menikah dengan Teja Kancana Hayupurnawangi cucu Prabu Tarusbawa pendiri Kerajaan sunda. Perkawinan kedua dengan putri sudiwara putra dari Narayana atau Prabu Iswara penguasa Kalingga Selatan. Sanjaya berkuasa di Galuh dari tahun 723-724 Masehi. Setelah merebut Galuh, Sanjaya segera menumpas para pendukung Purbasora ketika merebut kekuasaan dari tangan ayahnya. Setelah melakukan penyerbuan ke Indraprahasta kemudian Sanjaya menyerang Kerajaan Kuningan. Tetapi penyerangan ini mengalami kegagalan sampai akhirnya Sanjaya kembali ke Galuh bersama pasukannya. Setelah melakukan penyerbuan itu Sanjaya menemui Sempak Waja di Galunggung. Sanjaya meminta agar Galuh dipegang oleh Demunawan adik Purbasora, tetapi... Readmore...
Kerajaan Galuh Pada Masa Adimulya Permanadikusuma
Nama Adimulya Permanadikusuma atau disebut juga Bagawat Sajala-jala atau Ajar sukaresi, telah dikenal cukup akrab di telinga masyarakat yang ada di Kabupaten Ciamis terutama yang tinggal di daerah Bojong Galuh Karangkamulyan sekarang ini, karena tempat ini diduga sebagai bekas peninggalan Kerajaan Galuh pada masa pemerintahan Adimulya Permanadikusuma. Menurut sejarahnya, Adimulya Permanadikusumah adalah putra Wijaya Kusuma yang menjadi patih di Saung Galah (Kuningan), ketika Demunawan memegang pemerintahan. Ratu Adimulya Permanadilusuma lahir pada tahun 683 Masehi. Ia seumur dengan Sanjaya putra Bratasena. Sanjaya mengangkat Adimulya Permanadikusuma menjadi raja di Galuh dengan maksud untuk menghilangkan ketidaksimpatian para tokoh Galuh terhadap dirinya terutama keturunan Batara Sempak Waja dan Resi guru Jantaka.. Untuk memperkuat kedudukannya, Sanjaya membuat suatu stra... Readmore...
Kerajaan Galuh Pada Masa Tamperan
Tamperan menikah dengan Pangrenyep ketika sedang mengandung sembilan bulan. Namun tidak lama kemudian, ia menikahi Naganingrum yang statusnya sebagai istri kedua. Sementara itu Ciung Wanara, putra dari Prabu Adimulya Permanadikusuma dan Dewi Naganingrum setelah ibunya menikah kembali, ia melarikan diri ke Geger Sunten untuk menemui Balangantrang. Ia menetap di Geger Sunten sampai usianya dewasa. Ciung Wanara mengetahui rahasia negara, karena diberitahu oleh Balangantrang. Ia dipersiapkan oleh Balangantrang untuk merebut kembali Kerajaan Galuh yang menjadi haknya dan menuntut balas pati atas kematian ayahnya. Ketika Ciung Wanara berusia 22 tahun, tepatnya tahun 739 Masehi, Ciung Wanara bersama pasukannya dari Geger Sunten, ditambah dengan pasukan yang masih setia kepada Prabu Adimulya Permanadikusuma, menyerang kerajaan Galuh. Penyerangan itu dilakukan ketika sedang berlangsung pesta penyabu... Readmore...
Kerajaan Galuh Pada Masa Ciung Wanara
Sang Manarah yang disebut juga Ciung Wanara atau Prabu Suratama Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana memeritah di Galuh dari tahun 739-783 Masehi. Ciung Wanara dijodohkan dengan cicit Demunawan yang bernama Kancana Wangi. Dari perkawinan ini dikaruniai anak bernama purbasari yang kelak menikah dengan Sang Manistri atau Lutung Kasarung. Ciung Wanara memerintah selama kurang lebih 44 tahun, dengan wilayah pemerintahannya antara daerah Banyumas sampai ke Citarum, setelah cukup lama memerintah, Ciung Wanara mengundurkan diri dari pemerintahan, pemerintahan selanjutnya diteruskan oleh menantunya yaitu Sang Manistri atau Lutung Kasarung, suami dari Purbasari. Pada tahun 783, Manarah melakukan manurajasuniya yakni mengakhiri hidupnya dengan bertapa. Kisah Prabu Adimulya dan Ciung Wanara atau Sang Manarah serta tempat yang disebut Bojong Galuh Karangkamulyan yang sekarang terletak... Readmore...
Acara Nyangku
Dalam upacara sakral Nyangku, Museum Bumi Alit dan Situ Lengkong, satu sama lain saling berhubungan. Ketiga-tiganya merupakan tonggak sejarah terjadinya pergeseran keadaan sejarah Panjalu Lama ke Panjalu Baru. Upacara adat sakral Nyangku juga merupakan peninggalan raja-raja Panjalu yang sekarang masih ada Upacara adat sakral Nyangku pada jaman dahulu merupakan suatu misi yang agung, yaitu salah satu cara untuk menyebarkan agama Islam agar rakyat Panjalu memeluk agama Islam. Upacara adat sakral Nyangku biasanya dilaksanakan setiap tahun satu kali yaitu pada bulan Robiul Awal (Maulud) pada minggu terakhir hari Senin dan Jum’at. Istilah Nyangku berasal dari bahasa Arab yaitu “Yanko”, yang artinya membersihkan. Karena salah mengucapkan orang Sunda maka menjadi “Nyangku”. Upacara adat sakral Nyangku adalah upacara membersihkan benda-benda pusaka peninggalan para leluhur Panjalu. Tujuan dari upacara adat... Readmore...
Kecamatan dan Desa di Kab. Ciamis
Galuh Masa Pemerintahan Hindia Belanda
Galuh di bawah kekuasaan Kompeni
Galuh di bawah kekuasaan Mataram
Definisi Kerajaan Galuh
Ciamis, Kejayaan Kangjeng Prebu
Sejarah
Kerajaan Galuh pertama kali didirikan oleh Wrettikandayun pada abad ke-6 Masehi, akan tetapi belum ada keterangan yang pasti mengenai letak Kerajaan Galuh tersebut, namun ada beberapa pendapat yang mengemukakan bahwa Kerajaan Galuh berpusat di Cibeureum, yang sekarang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Tasikmalaya tepatnya di Desa Cibeureum Kecamatan Manonjaya. Sementara itu pendapat lain mengemukakan pula bahwa pusat Kerajaan Galuh terletak di Desa Citapen Kecamatan Rajadesa Kabupeten Ciamis. Ditempat ini ditemukan sebuah peninggalan purbakala berupa dinding batu yang cukup tinggi berada di sebuah tebing di pinggir kali sungai Cijolang. Pada dinding batu tersebut terdapat beberapa catatan berupa garis-garis berupa sebuah sandi, namun sampai saat ini belum diketahui apa maksud coretan tersebut. Ada lagi pendapat yang mengemukakan bahwa Kerajaan Galuh berpusat di Purbaratu, kemudian di Lakbok dan Karangkamulyan, yang kesemuanya memiliki peninggalan purbakala.
Wrettikandayun gemar menimba ilmu pengetahuan, ia diwarisi kitab yang disebut Sanghiang Watangageung oleh ayahnya. Kemudian ia bersama ayahnya yakni Kandiawan dan dua orang adiknya yang bernama Sandang Gerba dan Katungmaralah, membuat sebuah kitab yang diberi nama Sanghiang Sasanakerta.
Pada masa Wrettikandayun, Kerajaan Galuh berbatasan dengan Kerajaan Sunda di Citarum. Setelah 90 tahun memerintah, Wrettikandayun mengundurkan diri dari jabatannya kemudian ia menjadi Raja Resi di Mendala Menir, oleh sebab itu ia mendapat julukan Rahiangtarimenir.
Setelah Wrettikandayun wafat, tahta kerajaan tidak diteruskan oleh putra sulungnya karena putra sulung tersebut memiliki cacat tubuh yaitu giginya tanggal, oleh karena itu maka dinamai Sempak Waja. Disamping memiliki cacat tubuh, Sempakjaya memiliki wajah yang kurang bagus, kemudian ia di jodohkan dengan Pwah Rababu yang berasal dari daerah Kendan. Dalam perkawinannya pun Sempak Waja memiliki cacat, atau tidak memiliki jalan mulus, sebab terjadi peristiwa yang memalukan yakni, adanya hubungan gelap antara istrinya dengan adiknya sendiri yang bernama Mandiminyak. Hubungan gelap itu bermula dari adanya acara perjamuan makan di Galuh yang di sebut utsawakarma.
Putra kedua Wrettikandayun yang bernama Jantaka, juga tidak memenuhi syarat untuk menjadi raja, sebab ia pun memiliki cacat tubuh yaitu kemir. Tidak diperoleh keterangan dengan siapa Jantaka menikah, tetapi ia mempunyai keturunan bernama Bimaraksa atau terkenal dengan sebutan Balangantrang.
Putra ketiga dari Wrettikandayun merupakan orang yang dianggap memenuhi syarat untuk dijadikan raja, sebab tidak memiliki cacat tubuh. Ia adalah Mandiminyak.
Situs Budaya
Sahyang Bedil
Penyabungan Ayam
Lambang Peribadatan
Panyandaran
Cikahuripan
Dipati Panaekan
Mataram.
Makam Jambansari
Kompleks Jambansari dikelilingi pagar tembok yang tingginya sekitar 2 m. Pintu gerbang untuk masuk ke kompleks makam Jambansari berada di sisi timur, dengan bentuk bangunan seperti telor. Untuk masuk ke komplek makam melewati tangga trap. Di tengah komplek makam terdapat bangunan cungkup yang sangat kuat terbuat dari kayu jati. Atap cungkup berbentuk limas. Di dalam cungkup tersebut terdapat makam Kanjeng Prebu R.A.A. Koesoemadiningrat, Bupati Galuh Ciamis. Di sekeliling pemakaman terdapat beberapa makam kerabat dan para keturunan Prebu.
Di dalam Komplek terdapat bangunan penyimpanan benda-benda pusaka seperti yoni, lingga, menhir, Ganesha, gong, keris, keramik dan lain-lain. Selain di dalam bangunan penyimpanan benda-benda pusaka, arca-arca juga ada yang dikumpulkan di rerimbunan pohon weregu di samping bangunan itu. Total seluruh arca yang ada di kompleks tersebut adalah 13 arca. Menurut keterangan juru kunci makam, arca-arca yang terdapat di lokasi ini dikumpulkan oleh R.A.A Kusumadiningrat. Pengumpulan ini dilakukan dalam rangka dakwah agama Islam, sehingga bagi yang mempunyai arca atau berhala diharuskan untuk dikumpulkan di lokasi tersebut. Arca-arca yang terdapat di lokasi ini di antaranya berbentuk arca megalitik, arca tipe Pajajaran, Nandi, Ganesha, dan lingga. Selain itu di lokasi ini juga terdapat lumpang batu dan lapik arca.
Dengan mengunjungi kompleks makam ini sebetulnya para peziarah akan mendapatkan dua informasi, pertama mengenai sejarah perjuangan RAA Kusumadiningrat, dan kedua pola islamisasi yang dilaksanakan oleh RAA Kusumadiningrat. Bagaimana beliau menyikapi terhadap religi terdahulu tercermin dari kondisi arca-arca Hindu yang terkumpul di kompleks makam tersebut. Pengembangan ke aspek wisata ziarah di situs ini sangat didukung dari keletakannya yang di tengah kota serta tersedianya fasilitas bagi pengunjung di lokasi itu.
Museum Galuh Imbanagara terletak di Jln Mayor Ali Basyah No.311 Imbanagara Raya Ciamis. Tak bisa dipungkiri bahwa keberadaan kabupaten Ciamis tak lepas dari sejarah Galuh Imbanagara yang menjadi menjadi pusat pemerintahan selama kurang lebih 2 abad .
Museum ini didirikan untuk mengamankan benda-benda pusaka dan dokumen sejarah Galuh Imbanagara Ciamis, Museum ini telah diresmikan oleh Bupati Ciamis pada tanggal 12 Mei 2004 .
Benda-benda yang terdapat didalam museum ini antara lain :
• Keris-keris peninggal Galuh Imbanagara
• Dokumen-dokumen penting milik Galuh Imbanagara
• Foto-foto tentang sejarah Galuh Imbanagara
• dan benda-benda pusaka peninggalan Galuh Imbanagara lainnya ..
Dengan adanya museum ini, ketua yayasan Galuh Imbanagara yaitu bapak R. Enggun S Rachmat berharap warga masyarakat Tatar Galuh Kabupaten Ciamis dapat melihat langsung serta mengetahui tentang keberadaan sejarah kabupaten Galuh di masa lalu ..
Namun, sayangnya letak Museum Galuh Imbanagara ini kurang strategis . kita harus memasuki sebuah gang untuk mencapainya. Museum ini juga relatif sepi dan kecil dibandingkan dengan museum-museum lain yang ada di Indonesia.
Situs Astana Gede Kawali
Situs Astana Gede di Dusun Indrayasa, Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Ciamis ini menyimpan kandungan histori yang amat tinggi. Ada nilai-nilai luhur terbubuhkan di sini. Adalah Raja Wastu Kancana yang menorehkan pesan-pesannya di atas bongkahan batu cadas. Uniknya, pesan-pesan itu ditoreh menggunakan tangannya. Apa isi pesan mistis sang prabu?
Masyarakat luas lebih mengenal Situs Astana Gede ini dengan nama Prasasti Kawali. Di kompleks ini terdapat sembilan situs yang sangat dilindungi. Dari sembilan situs ini, beberapa diantaranya terdiri dari batu bertulis atau prasasti. Menurut penelitian kepurbakalaan, situs-situs ini adalah tinggalan Prabu Wastu Kancana pada abad ke-13 masehi. Pada masa itu, beliau dikenal sebagai raja muda yang arif dan bijaksana. Selain itu, Prabu Wastu dikenal pula sebagai raja yang sakti mandraguna.
Ketika Prabu Wastu memerintah, kondisi rakyat berada dalam kesejahteraan, adil dan makmur. Tak heran bila sang raja berhasil memimpin negeri di tanah Kawali mencapai 104 tahun lamanya. Seperti diurai juru kunci kompleks Astana Gede, Akup Wiria (65), Prabu Wastu adalah raja yang naik tahta pada umur 24 tahun dan berumur panjang.
Karena cita-citanya yang ingin agar rakyat Kawali adil dan makmur, maka diakhir hayatnya, sang prabu menorehkan pesan-pesan mistis di atas beberapa bongkah batu cadas yang keras. Uniknya, torehan pesan bijak tersebut dilakukan dengan telunjuk tangannya. Hal seperti ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang biasa. Dan prabu Wastu telah menunjukkan kadigdayaannya agar pesan-pesannya dikenang sepanjang masa. Yang tidak kalah mengherankan juga terjadi pada sebongkah batu masih di kompleks itu pula. Di situ terdapat bekas telapak kaki sang prabu.
Dan memang, sejarah telah membuktikan. Berabad-abad kemudian, prasasti-prasasti ini ditemukan dan dijadikan benda cagar budaya yang dilindungi. Anehnya, kawasan yang tak lebih dari 200 meter persegi ini sangat mengesankan kehidupan tempo dulu. Menurut beberapa peziarah dan pengunjung Astaga Gede, terasa betul ada hawa mistis yang seolah-olah menyelimuti tempat ini. “Kalau berada di sini kita seperti hidup di masa yang lalu,” tutur Samsudin (43), salah seorang pengunjung.
Selain situs dan makam keturunan kerajaan Kawali, di kompleks Astana Gede ini masih ditumbuhi pohon-pohon berusia tua. Terlihat dari akar-akarnya yang panjang melingkar dan menyembul keluar. Kondisi ini semakin mengukuhkan Astana Gede sebagai tempat yang tidak lekang dimakan zaman.
Seperti diungkap juru kunci Akup Wiria, kompleks Astana Gede boleh dibilang amat keramatkan masyarakat. Itu tak lain karena ada pesan-pesan luhur yang ditorehkan karuhun (leluhur) untuk generasi penerus. Bahkan pada hari-hari tertentu, kompleks ini sering dikunjungi oleh para peziarah. Tujuannya mereka tidak lain untuk ngalap berkah.
Namun Akup Wiria menyayangkan karena pesan-pesan yang terdapat di Astana Gede cenderung diabaikan oleh generasi sekarang, terutama para pimpinan. “Makanya jangan heran bila sekarang bangsa ini tengah diancam kehancuran. Soalnya mereka terutama sibuk dengan urusan pribadi. Mereka lupa nasib rakyatnya dan juga pesan-pesan leluhur,” tandas juru kunci yang sudah puluhan tahun menjaga Astana Gede,
Misalnya pada Prasasti I, terdapat tulisan berbunyi, “Inilah bekas beliau yang mulia prabu Wastu Kancana, yang berkuasa di kota Kawali yang memperindah keraton Surawisesa yang membuat parit di sekeliling ibukota yang memakmurkan seluruh desa. Semoga anda penerus yangmelaksanakan berbuat kebajikan agar lama jaya di dunia.”
Lalu para prasasti II, “Semoga ada yang menghuni di Kawali ini yang melaksanakan kemakmuran dan keadilan.” Dan prasasti IV, “Dari rasa yang ada yang menghuni kota ini jangan berjudi, bisa sengsara.” Semua pesan-pesan itu, kata Akup, sangat cocok dengan kondisi sekarang. Dan buktinya tidak diindahkan. Wajar bila negara ini dalam krisis berkepanjangan.
Pada waktu-waktu tertentu, di tempat ini kerap muncul isyarat aneh. Masyarakat di sana sudah mengerti bila isyarat itu muncul dari para arwah leluhur. Misalnya ketika ada keramaian seperti pertunjukan seni. Suatu ketika, pernah ada pertunjukan seni tradisional yang digelar siswa-siswa sekolah dasar di Ciamis. Pertunjukan dilangsungkan pada malam hari di depan pintu masuk kompleks. Kebetulan, cerita yang dipertunjukkan bertema perang bubat.
SITU LENGKONG
Luas Situ Lengkong adalah 57,95 Ha dan Nusa Gede 9,25 Ha. Jadi luas seluruhnya adalah 67,2 Ha dengan kedalaman air 4 m – 6 m. Situ ini berdiri di atas ketinggian 731 meter di atas permukaan laut.
Menurut sejarah Panjalu, Situ Lengkong bukanlah situ alam yang terjadi dengan sendirinya, akan tetapi hasil buatan para leluhur Panjalu. Dimana dahulu kala sejak lebih kurang abad ke tujuh masehi (menurut catatan kebudayaan abad ke 15) di Panjalu telah ada Kerajaan Hindu yang bernama kerajaan Panjalu.
Awal abad ke tujuh, Raja yang memerintah ialah Prabu Syang Hyang Cakradewa. Raja mempunyai keinginan agar putra mahkota sebagai calon pengganti raja haruslah memiliki terlebih dahulu ilmu yang paling ampuh dan paling sempurna. Berangkatlah sang mahkota “Borosngora” lama sekali, tetapi tidak seorangpun diantara Wiku, para Resi dan para Pertapa yang sanggup menggugurkan ilmu tersebut. Akhirnya putera mahkota sampailah di Tanah Suci Mekah. Disanalah tujuan tercapai, yaitu mempelajari dan memperdalam Agama Islam (Dua Kalimah Syahadat).
Setelah cukup lama, maka pulanglah sang putera mahkota ke negara Panjalu dengan dibekali Air Zamzam, pakaian kesultanan serta perlengkapan Pedang dan Cis dengan tugas harus menjadi Raja Islam dan sekaligus mengislamkan rakyatnya. Kemudian beliau menjadi Raja Panjalu menggantikan ayahandanya dengan gelar Syang Hyang Borosngora.
Mulai saat itulah Kerajaan Panjalu berubah dari Kerajaan Hindu menjadi Kerajaan Islam. Air Zamzam yang dari Mekah ditumpahkan ke sebuah lembah yang bernama Lebah Pasir Jambu, kemudian lembah itu airnya bertambah banyak dan terjadilah Danau yang kini disebut Situ Lengkong.
Pedang, Cis dan Pakaian Kesultanan disimpan di Museum Bumi Alit yang waktu itu merupakan Museum Kerajaan. Istana Kerajaan dipindahkan dari Pasir Dayeuh Luhur ke Nusa Gede Panjalu, sehingga dengan demikian air Situ Lengkong merupakan benteng pertahanan Keraton.
Situ Lengkong atau disebut juga Situ Panjalu merupakan salah satu sisa-sisa peninggalan raja-raja Panjalu yang sekarang masih ada. Benda-benda peninggalan yang masih ada berupa dolmen, lingga, dan batu bekas singgasana/bertapa raja.
Bumi Alit, Situ Lengkong dan upacara nyangku merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah pada waktu Agama Islam masuk ke Kerajaan Panjalu yang merupakan awal terjadinya perkembangan sejarah baru.
Selanjutnya diceritakan pula bahwa Prabu Boros Ngora memindahkan keraton yang semula terletak di daerah Dayeuh Luhur ke Nusa Gede yang terletak ditengah- tengah Situ Lengkong. Selain keraton, ia juga memindahkan kepatihan yang disebut Hujung Winangun ke sebelah Barat Nusa Gede dan membuat taman serta kebun dan tempat rekrerasi di Nusa Pakel. Untuk memudahkan komunikasi, maka dibuat dua pintu gerbang untuk memasuki Keraton Nusa Gede, pintu gerbang yang pertama dibuat dari ukiran dan dijaga oleh Gulang-gulang yang berjenggot yang bernama Apun Obek. Sedangkan pintu gerbang yang ke dua merupakan jembatan yang menghubungkan Nusa Gede dengan daratan, letaknya di sebelah Barat yang dikenal dengan nama Cukang Padung (Jembatan dari balok-balok kayu) maka sekarang daerah-daerah tersebut dinamakan Dusun Cukang Padung.
Setelah Prabu Boros Ngora pindah ke Jampang maka kekuasaan Kerajaan Panjalu diserahkan kepada anaknya Raden Hariang Kuning dan selanjutnya diberikan kepada adiknya yang bernama Raden Hariang Kencana (Embah Panjalu yang dimakamkan di Situ Lengkong, yang menurunkan raja-raja Panjalu selanjutnya.






